Article Index
Persandian Dunia
Persandian Dunia 2/4
Persandian Dunia 3/4
Persandian Dunia 4/4
All Pages

 

PERSANDIAN MODERN

 

1. Peristiwa Communication Program Unit (CPU) USA di Moskow


Pada era 1980-an perang komunikasi-sandi elektronik telah digelar oleh negara-negara adikuasa dan aditeknologi, dalam hal ini USA bersama sekutunya di satu pihak melawan Uni Soviet di pihak lain.


Communication Programs Unit (CPU) sebagai bagian dalam Perwakilan USA di Moscow melapisi seluruh dinding dan pintu tempat kerjanya dengan timah. Di dalam ruang tertutup itu dibuat lagi ruang sejenis, yang dipakai sebagai kamar sandi (code room) CIA (Central Intelligence Agency) tempat dilakukan proses enkripsi dan dekripsi informasi rahasia dan transmisi satelit secara spurt system, dengan kecepatan transmisi 9600 huruf per detik.


Mesin-mesin sandi elektronik dirancang oleh National Security Agency (NSA), Pusat Persandian USA. Sistem sandinya memakai prinsip one-time random key dan pengelolaan kuncinya (key management) memakai formula matematika yang canggih. Rangkaian kunci yang acak (random) dan sangat panjang didistribusikan secara online dengan cara multiplex, yaitu "in fragmentary burst of millisecond each” (pentransmisian secara terpisah tetapi secara serempak dalam waktu beberapa mili detik), melalui banyak saluran komunikasi yang berbeda-beda.


Untuk apa dan melawan apa lalu lintas komunikasi dibuat serumit itu? KGB (Intelijen Uni Soviet) kurang begitu berhasil dalam pengumpulan informasi melalui agen-agennya, sehingga mereka mengalihkan kegiatan spionase-nya ke kegiatan intelijen komunikasi.


Sejak tahun 1950-an Soviet telah memasang mini-mikes (mikrofon mini) atau disebut pula bugs, di gedung perwakilan USA di Moscow, yang dipasang di dalam dinding oleh para pekerja berkebangsaan Uni Soviet sewaktu merenovasi gedung perwakilan USA tersebut, ataupun pada mesin-mesin tik listrik sewaktu dalam transportasi. Bahkan Soviet pernah berhasil memasang mini-mike pada simbol negara “Garuda USA” yang digantungkan di belakang kursi kerja duta besar. Sudah tentu cukup banyak terjadi kebocoran informasi di pihak USA, baik berupa tulisan maupun percakapan yang “berharga” dari para pejabat-pejabat penting perwakilannya di Moscow tersebut. Setelah mata-mata KGB (Intel Uni Soviet) sangat terhambat dalam pengumpulan informasi intelijen, akhirnya Soviet berusaha mengadakan penetrasi ke dalam gedung perwakilan USA melalui emisi-emisi elektronik. Tetapi, CPU memasang anti sadap semaksimal mungkin dalam gedung mereka, untuk menangkal serangan emisi elektronik Soviet.


Perang komunikasi-sandi elektronik tahun 1980 di Moscow tersebut tidak usai sampai di sini saja.


2. Peristiwa Penyadapan Elektronik pada Masa Perang Teluk (1990-1991)


Pada kurun waktu antara April 1990 hingga Mei 1991, lima orang penyadap elektronik (hackers) berbangsa Belanda berhasil menembus sistem komunikasi Amerika di 34 situs militer dalam internet. Mereka menelusuri seluruh ruang-gerak komputer (cyberspace) untuk memperoleh informasi pada waktu pengirimannya (in transit), dalam proses en/dekripsi (in processing) ataupun sudah tersimpan (in storage, filed), untuk mencari seluruh teks-teks yang mengandung kata-kata kunci seperti nuclear, missiles dan weapons. Bahkan, mereka berhasil memperoleh informasi mengenai lokasi pasukan Amerika, persenjataannya, kemampuan missile-nya dan gerakan-gerakan kapal-kapal perangnya di Teluk Arab (The Gulf War).


Walaupun kelima hackers tersebut kemudian dapat diidentifikasi, tetapi mereka tidak dapat dituntut di depan pengadilan, karena pada waktu itu, di Negeri Belanda “hacking” belum dianggap sebagai sebuah tindak kejahatan. Informasi yang mereka peroleh telah dicoba ditawarkan kepada Saddam Hussein melalui perantara, tetapi Saddam menolaknya.


Sementara pada bulan Mei 1991 Saddam Hussein memperoleh ratusan informasi intelijen mengenai militer dan politik dari seorang arsiparis Kementerian Luar Negeri Jerman, termasuk surat-surat antara Presiden Bush (USA) dan Kohl (Jerman) mengenai rencana gerakan-gerakan dan persenjataan Amerika di Jerman.


Kedua kisah tersebut di atas merupakan contoh kasus dari apa yang dinyatakan oleh John Alger dari School of Information Warfare and Strategy at National Defence University:


Information Warfare consists of those actions intended to protect, exploit, corrupt, deny or destroy information or information resources… “, bahwa persandian terlibat dalam information warfare. Walaupun tidak tampak penampilannya, tetapi cukup signifikan dalam mengamankan (protect) dan memperoleh (exploit) informasi, khususnya yang bersifat rahasia.


3. Pearl Harbour


Sosialisasi Serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 merupakan sukses besar Jepang, karena mampu menutup pemberitaan rahasia mengenai rencana dan persiapan menjelang D-day. Mengapa terjadi? Padahal sebelumnya Amerika telah berhasil memecahkan sandi-sandi Jepang, sehingga Amerika memiliki informasi-informasi penting dan rahasia. Rupanya pada 4 Desember 1941 menjelang serangan Pearl Harbor, Jepang telah mengganti sistem sandinya dengan tipe super encipherment, sistem sandi yang lebih kuat. Amerika baru berhasil memecahkannya pada 8 Desember 1941, sehari setelah serangan Pearl Harbor.


Kekalahan Pearl Harbor yang mulai melibatkan Amerika dalam Perang Dunia II itu dapat ditebus dengan "Pertempuran laut di Midway” bulan Juni 1942. Midway merupakan titik balik kemenangan Jepang di Pasifik. Berdasarkan berita-berita hasil pemecahan sandi Jepang, Amerika mempunyai gambaran jelas dan lengkap mengenai besar dan kekuatan serta posisi-posisi Jepang. Walaupun analisa bagian Intelijen juga mendekati kenyataan, namun informasi hasil penyadapan dan kriptanalisa dianggap lebih faktual dan lebih mantap untuk dipakai sebagai dasar tindakan selanjutnya.


Pra informasi tersebutlah yang menghasilkan kemenangan gemilang terhadap armada Jepang yang dalam pertempuran Midway tersebut kehilangan 4 kapal induk, yang mengurangi kekuatan samudera Admiral Yamamoto di Pasifik. Setelah Pearl Harbor dan Midway, masalahnya adalah bagaimana menutup kenyataan bahwa Amerika telah dapat memecahkan sandi Jepang, sebab sebelum Amerika mampu menempatkan kekuatan adalah diketahuinya oleh Amerika mengenai Order of Battle lawannya melalui penyadapan serta pemecahan sandi.


Dalam pemilihan presiden tahun 1944, Thomas Dewey, seorang calon, dapat diyakinkan oleh pihak militer agar tidak menggunakan affair Pearl Harbor (keterlambatan pemecahan sandi Jepang) dalam kampanyenya agar Jepang tidak mengetahui bahwa Amerika telah beberapa lama menguasai sandinya.


4. Serbuan Jerman ke Yugoslavia


Awal Perang Dunia II Adolf Hitler dapat menduduki Yugoslavia dalam waktu yang relatif singkat, yang tidak diduga sebelumnya, mengingat letak geografisnya yang berbukit-bukit. Apa sebabnya Hitler berhasil dengan gemilang? Karena tentara Jerman telah mendapat informasi lebih dulu tentang daerah yg akan diserbunya seperti; Zagreb, Sarajevo dan Beograd.


Jauh sebelum aksinya tersebut tahun 1940-an, Jerman mengirim orang-orangnya menyamar sebagai sipil untuk mengadakan intersepsi berita-berita Yugoslavia dan pemecahan sandinya. Informasi yang didapat adalah yang up to date dan terpercaya mengenai gerakan tentara Yugoslavia.


Setelah menduduki Yugoslavia, Jerman tetap mengadakan penyadapan dan analisa sistem sandi kaum gerilya Yugoslavia. Sehingga Jerman pun mengetahui hubungan yg kurang baik antara Tito dengan kalangan Amerika dan Inggris.


5. Fernmeldeaufklarung (Radio Intelligence) Jerman


Pertengahan 1942, Jenderal Rommel dapat menguasai peperangan di Afrika Utara, berkat bantuan informasi dari Fernmelde aufklarung dibawah pimpinan Kapten Seebohm. Kompi tersebut menyadap semua pemancar Sekutu, dan mendapatkan berita-berita bahkan percakapan-percakapan yang melalui saluran perhubungan radio Sekutu.


Pada Juni 1942 tersadap pembicaraan radio-teleponi antara Brigade India ke-29 (29th Indian Brigade) dan Divisi Lapis Baja ke-7 (7th Armored Division). Isinya menyatakan pasukan Sekutu yang berada di benteng El Adem bermaksud menyerang suatu pasukan Jerman malam itu. Informasi itu diteruskan kepada Rommel, dan serangan Sekutu menemui kegagalan total, bahkan El Adem jatuh ditangan pasukan Jerman.


Gugurnya Kapten Seebohm pada 1 Juli 1942 dalam suatu pertempuran dan jatuhnya dokumen-dokumennya ke tangan Sekutu membuka mata, bahwa selama ini berita-berita mereka (termasuk rencana operasi) diketahui oleh pihak Jerman.


Selekasnya 8th Army mengambil tindakan pengamanan, yaitu:

a. cara pemakaian callsign disempurnakan,

b. disiplin persandian diperketat,

c. radio teleponi memakai sandi,

d . menggunakan berita berita palsu (dummy messages), serta

e. menciptakan jaringan perhubungan palsu (fake) di sektor selatan.



 

HUT KE-67 PERSANDIAN RI

      

PENGUNJUNG

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini331
mod_vvisit_counterKemarin1240
mod_vvisit_counterMinggu ini5729
mod_vvisit_counterMinggu lalu8223
mod_vvisit_counterBulan ini25515
mod_vvisit_counterBulan lalu39991
mod_vvisit_counterTotal699548

Saat ini ada: 17 pengunjung, 7 bots online
IP Anda: 107.22.25.119
 , 
Hari ini: Jun 20, 2013

SPMB STSN